S K O P I N

Tidak bisa dipungkiri, dunia teknologi dan informasi berkembang sangat pesat. Komunikasi menggunakan akses internet menembus batas kota, provinsi bahkan negara. Dunia dalam genggaman. Inilah era revolusi teknologi yang disebut revolusi 4.0. Pada saat ini, hampir setiap orang mempunyai gawai dan barang tersebut seolah sudah menjadi kebutuhan primer. Penggunaan kemajuan teknologi sudah menjadi keniscayaan.

Dunia pendidikan juga bergegas mengikuti perkembangan teknologi. Presiden Joko Widodo menempatkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Kabinet Indoneisa Maju dengan sosok millenial muda, visioner dan telah sukses dengan platform aplikasi online, Nadiem Anwar Makarim. Banyak pihak yang skeptis dengan pilihan presiden tersebut karena Mas Nadiem selama ini tidak berkiprah di dunia pendidikan, tapi banyak pula yang menaruh harapan besar. Mas Nadiem diharapkan membuat hal revolusioner utamanya di bidang teknologi informasi dan kebijakan-kebijakan yang bisa mendobrak ‘kebekuan’ pendidikan selama ini.

“Kita akan membuat terobosan-terobosan yang signifikan dalam pengembangan SDM yang menyiapkan SDM-SDM yang siap kerja, siap berusaha yang me-link and match-kan antara pendidikan dan industri nanti berada di wilayah Mas Nadiem Makarim’’, kata Pak Jokowi pada pengumuman menteri, 22 Oktober 2019.

Wait… Hal yang terbersit pertama kali sewaktu saya menyaksikan pengumuman menteri tersebut adalah, harus kita akui bersama bahwa tujuan pendidikan Indonesia salah satunya (atau mungkin yang paling utama) sampai detik ini nyatanya adalah menyiapkan SDM untuk industri. Sekali lagi, UNTUK INDUSTRI. Tetapi, sudah selaras kah hal tersebut dengan visi dari Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara?

Sebagai guru, saya pribadi termasuk orang yang excited dengan terpilihnya Mas Nadiem, apalagi beliau sebagai menteri termuda di jajaran kabinet. Pidato beliau yang antimainstream dan to the point pada hari guru (25/11/2019) menjadi angin segar bagi dunia pendidikan Indonesia. Beliau menyoroti aturan dan beban administrasi guru, angka ujian, dan kurikulum menghafal. Karakter, kompetensi dan literasi menjadi fokus bagi Mas Menteri, dimana ijasah dengan nilai tinggi belum pasti menjamin kesuksesan masa depan. Dan kemudian lahirlah visi #MerdekaBelajar dan #GuruPenggerak. Memang ini kan yang selama ini menjadi tembok kaku pendidikan kita?

Merdeka belajar versi Mas Nadiem memang revolusioner. Ada 4 kebijakan yakni USBN diganti asesmen, meniadakan UN mulai 2021, RPP yang ringkas dan Penerimaan Peserta Didik baru (PPDB) Zonasi yang fleksibel. Tetapi, revolusi kebijakan tersebut menghadirkan tantangan yang berat. Sistem pendidikan konvensional yang sudah berahun-tahun mengakar, kesiapan serta kompetensi guru dan siswa, birokrasi yang berlapis untuk dapat dilaksanakan di dinas pendidikan kabupaten/kota serta kesenjangan antar daerah dan sekolah menjadi PR besar bagi kemendikbud untuk memastikan kebijakan tersebut bisa berjalan dalam 5 tahun pengabdian Mas Menteri.

Belum genap setahun visi Mas Menteri tersebut dikeluarkan, Indonesia bahkan dunia dicengkeram oleh pandemi virus Covid-19. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah terkena imbasnya dan terpaksa harus dihentikan demi mencegah meluasnya sebaran Covid-19 ini. Dan tidak tahu sampai kapan akan berakhir. KBM harus beralih ke sistem online/ dalam jaringan (daring) dengan aplikasi-aplikasi belajar yang tersedia. Guru harus Work From Home (WFH) dan siswa menjalani School From Home (SFH).

Secara otomatis, mau tidak mau, KBM harus memanfaatkan perkembangan kecanggihan teknologi. Dan ini memang menjadi salah satu hikmah. Guru, siswa, bahkan orangtua harus lebih dalam mengenal beberapa aplikasi pembelajaran online yang digunakan masing-masing sekolah. Mulai aplikasi Rumah Belajar Kemdikbud, Microsof Office 365 for educationGoogle Classroom hingga Ruang Guru dan aplikasi lain yang serupa. Belajar bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, walaupun di rumah. Tetapi, ‘hanya’ inikah yang dimaksud esensi ‘belajar’?

Namun, KBM secara daring juga menyisakan masalah tersendiri. Di beberapa sudut daerah, tidak semua siswa bahkan orangtua mempunyai gawai. Kalaupun punya, spesifikasi gawai tidak support untuk mengunduh aplikasi-aplikasi diatas. Juga kemampuan pembelian paket internet yang masing-masing keluarga berbeda kemampuannya. Kalaupun ingin numpang Wifi, warung kopi pun harus tutup semua. Belum lagi yang ekonomi keluarganya terkena dampak Covid-19 karena orangtua mengalami PHK atau dirumahkan tanpa gaji.

Kehadiran “Belajar dari Rumah TVRI” memang sedikit banyak menjadi solusi untuk siswa yang tidak mempunyai gawai. Tetapi itu menjadi problem lain bagi daerah-daerah yang tidak bisa menjangkau sinyal televisi. Ada juga daerah yang selain mewajibkan siswanya melihat tayangan di TVRI tersebut, juga ditagih bukti menonton dengan mengirim foto siswa yang sedang melihat TVRI serta rangkuman pelajaran pada link formulir online. Tetap saja membutuhkan gawai untuk mengirim laporan.

Sering juga terjadi missed control dari guru dan orangtua dalam mendampingi belajar online siswa, karena ketiga pihak ini tidak berada dalam satu tempat pada waktu yang sama. Jadwal KBM daring tetap pagi, sedangkan ada yang kedua orangtua yang ketika pagi harus bekerja ke luar rumah, siswa dan guru ada di rumah masing-masing. Guru harus telaten menagih tugas siswa setiap harinya.

Memang kita sekarang tengah dalam kondisi tidak ideal. KBM secara daring pun tentunya juga belum bisa ideal. Yang perlu saya garis bawahi disini adalah bahwa ternyata secanggih apapun perkembangan teknologi tidak akan mampu menggantikan peran guru dihadapan para siswa. Pertemuan langsung face to facemuwajjahah, adalah hal yang sangat penting. Suara dan intonasi yang langsung yang ditangkap telinga sangat berbeda rasanya dengan suara, intonasi dan wajah sekalipun di video conference. Siswa juga tidak bisa melakukan konfirmasi dalam bentuk bertanya atau menjawab layaknya pertemuan tatap muka.

Lebih lanjut, kecanggihan teknologi bukanlah ancaman yang menggantikan guru, melainkan ‘kendaraan’ penunjang pembelajaran, yang juga telah ditegaskan Mas Nadiem Makarim dalam talkshow bersama Najwa Shihab pada peringatan Hari Pendidikan Nasional. KBM adalah kegiatan yang melibatkan banyak aspek sosial, psikologis, kedekatan emosional, kerjasama dan friendship. Belajar bukan hanya tentang materi teori, tugas, dan angka-angka yang dianggap nilai. Belajar bukan hanya sisi-sisi akademis kurikulum baku. Belajar yang lebih penting adalah bagaimana bersikap terhadap problematika, pengembangan bakat minat, perluasan jejaring pertemanan, kepemimpinan dan pengalaman organisasi, relijiusitas, dan kejujuran, sebagai wujud penguatan pendidikan karakter. Dan itu semua butuh bimbingan langsung dari guru.

“Problem tentang filosofi dasar pendidikan Indonesia harus kita renungkan kembali. Perlu ada kebijakan dan kurikulum jangka panjang pemerintah yang final dan subsatnsial. Tidak berubah-ubah walaupun Presiden dan Menteri berganti. Pendidikan bukanlah sistem yang mencetak robot atau ‘hanya sekedar’ mesin pencetak tenaga kerja bagi industri. Pendidikan bukan hanya tentang masa depan yang kita orientasikan sebagai pekerjaan atau profesi. Kalaupun harus demikian, maka bisakah pendidikan mengembalikan nama bangsa Indonesia yang masyhur sebagai negara maritim dan agraris, bukan negara industri yang (katanya) modern. Kita, para guru yang harus bisa mengendalian teknologi, bukan teknologi yang mengendalikan kita.”

Semoga Mas Mendikbud berhasil menjalankan visi misinya di sisa waktu pengabdian yang ada dan ditengah pandemi yang kita tidak tahu kapan akan mereda. Bagaimanapun juga, pendidikan menjadi garda terdepan kemajuan bangsa. Karena,“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah’’(Milan Kundera).

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2020!

Tulungagung, 2 Mei 2020
Dian Eko Restino, S.Pd, Gr.

Leave a Comment

Jl. Sumbersekar, Perumahan Arjuna View No. 15A,
Kota Malang, Jawa Timur | Kode Pos : 65145
+62 812-1709-009
info@skopin.id

Support Links

2020 © All rights reverved. PT. Aplikasi Sukses Untuk Semua.